Kamis, 08 November 2018



  1. MENANGANI BULLYING MELALUI BIMBINGAN
    Oleh: Endo Kosasih,

                Bullying merupakan suatu tindakan kenakalan yang tidak bisa dianggap ringan karena memiliki dampak psikis yang tidak kecil bagi semua orang yang terlibat di dalamnya baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Tindak bullying dapat digolongkan ke dalam dua bentuk, yaitu: langsung dan tidak langsung. Tindak bullying langsung mencakup 1) tindakan fisik memukul, menendang, menampar, merebut barang, dan lain-lain; 2) tindakan verbal mengejek/mengolok-olok, menyebut sesuatu berbau SARA, meminta uang/barang atau melakukan sesuatu dengan ancaman. Secara tidak langsung, tindakan bullying meliputi mengisolasi, memojokan, memanipulasi pertemanan, menyebarkan rumor, menulis “surat kaleng”, dan sebagainya.
    Tindak bullying yang terjadi di sekolah baik SD, SMP, maupun SMA/SMK tampaknya tidak memadai jika hanya dipandang sebagai kejadian yang melibatkan dua aktor saja, pem-bully /penindas (bully) dan korban/yang tertindas (victim). Sebagai peristiwa kelompok tindakan bullying  melibatkan banyak aktor dengan berbagai peran. Pada peristiwa tersebut aktor-aktor tersebut baik langsung maupun tidak membuat tindak bullying itu terjadi. Aktor-aktor yang dimaksud meliputi: pem-bully, rekan/asisten pem-bully,korban, pembela, dan penonton. Pem-bully adalah aktor utama yang menyebabkan perilaku bullying terjadi karena dialah yang mempunyai inisiatif dan melakukan tindakan bullying. Ketika pem-bully melaksanakan aksinya biasanya ia ditemani oleh rekannya, yang berperan sebagai asisten/fasilitator, inspirator, dan penyemangat (motivator) bagi si pem-bully dalam menjalankan aksinya serta sebagai martir menghadapi pembela korban. Aktor ketiga adalah yang menjadi objek penderita tindak bullying, korban (victim). Ia adalah pihak yang dianggap lemah dan tidak mampu melaksanakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan yang diarahkan padanya. Sehingga ketika terjadi tindak bullying, orang dekat korban yang memiliki kekuatan biasanya muncul sebagai pembela (defender). Tidak jarang perkelahian terjadi antara pem-bully/assistennya dan pembela pada saat peristiwa bullying terjadi. Adapun aktor terakhir dalam peristiwa bullying adalah penonton (bystander). Mereka adalah orang-orang yang menyaksikan tindakan bullying terjadi dan mereka tidak melakukan tindakan membantu pem-bully ataupun membela korbannya. Dengan kata lain mereka hanya melihat dan abstain dalam penyikapan terhadap tindak bullyingtersebut. Diamnya penonton ini ketika terjadi tindakan penindasan dapat membuat aman pem-bully dalam menjalankan aksinya dan biasanya dipersepsikan baik oleh pem-bully maupun korban sebagai pihak yang menyetujui tindak bullying.
               
    Implikasi Bimbingan
    Bimbingan untuk menangani bullying ini dapat berupa upaya preventif yang bersifat pencegahan terjadinya tindak bullying dan upaya kuratif yang dilakukan pasca peristiwa bullying. Bimbingan preventif dapat berupa upaya memunculkan pemahaman dan kesadaran bahwa tindak bullying tidak dapat diterima baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah. Bimbingan yang bersifat kuratif arahannya tergantung pada peran-peran yang dimainkan oleh semua orang yang ada ketika peristiwa bullying itu berlangsung. Bagi korban dan terkadang pembela yang menjadi korban dampak yang paling besar adalah pada keadaan kejiwaannya (gelisah, stress, atau depresi), sehingga bimbingan untuk korban/pembelanya diarahkan pada bagaimana mengupayakan agar ia mampu menangani gejolak kejiwaannya sehingga mencapai keadaan yang normal dan sehat. Bagi pembela yang melakukan konfrontasi dengan pem-bully secara langsung karena memiliki kekuatan yang seimbang atau lebih besar, bimbingan diarahkan pada pengendalian diri dan pemerolehan pengetahuan dan keterampilan tentang mencegah/mengatasi tindak bullying secara berterima. Bagi pem-bully dan asistennya yang memiliki agresivitas tinggi, bimbingan diarahkan pada pengendalian diri terhadap sikap/perilaku agresif dan penumbuhan keyakinan, sikap, dan perilaku sosial yang sehat/ normal. Adapun bagi penonton yang menyaksikan episode-episode bullying sehingga menganggap kejadian semacam itu lumrah/atau lazim adanya, maka bimbingan diarahkan pada pemunculan pemahaman bahwa tindak bullying itu merupakan tindakan yang tidak dapat diterima dalam lingkungan sosial yang beradab dan mengajarkan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah, mengatasi, atau menghentikan tindakan bullying tersebut.

    Penulis adalah koordinator guru pembimbing SMPN 4 Pagaden tahun 2003-2009.

    Keterangan: Tulisan ini pernah dimuat di harian Pikiran Rakyat
    0 

    Add a comment



  2. PENGELOLAAN KONFLIK DAN PRODUKTIVITAS GURU
    Oleh: Endo Kosasih

    Konflik, dalam ukuran dan intensitas yang berbeda-beda, hampir selalu ada di dalam sebuah organisasi termasuk organisasi sekolah. Kenyataan ini tidak dapat dielakkan karena terdapat banyak sekali  potensi konflik yang ada di sekolah. Beberapa potensi konflik yang dapat berubah menjadi konflik di antaranya adalah perbedaan kewenangan/kekuasaan, perbedaan akses terhadap sumber daya, perbedaan karakter masing-masing warga sekolah (kepala sekolah, guru, staf TU, penjaga, dan siswa), perbedaan pemahaman akan visi dan  misi sekolah, serta perbedaan etos kerja  warga sekolah.
    Keberadaan konflik sebenarnya tidak perlu dikhawatirkan selama konflik tersebut bersifat produktif,  yakni membantu terlaksananya upaya-upaya warga sekolah untuk mencapai tujuan. Ketika masing-masing pihak yang berkonflik bersaing untuk menunjukkan keunggulannya dalam melaksanakan  tugas, itu merupakan konflik yang produktif. Masing-masing pihak yang berkonflik akan lebih bersemangat melaksanakan  tugas-tugas mereka dengan intensitas kerja yang melebihi kebiasaan. Namun demikian, jika yang terjadi adalah terhambatnya kinerja dan produktivitas  warga sekolah untuk  mencapai tujuan karena munculnya sebuah konflik, maka konflik tersebut adalah konflik yang kontra-produktif. Konflik yang kontra-produktif antara lain ditandai dengan munculnya ketidaknyamanan masing-masing pihak yang berkonflik dalam melaksanakan tugas-tugas mereka. Ketidaknyamanan itu dapat berupa rasa saling curiga berlebihan antara satu pihak yang berkonflik dengan pihak lainnya; munculnya keengganan untuk melaksanakan tugas-tugas sekolah; bahkan  timbul upaya saling menjegal antar pihak yang berkonflik dalam melaksanakan tugas sekolah.
    Bila konflik telah terjadi, lalu apa yang seyogyanya dilakukan oleh  pimpinan sekolah? Terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan pimpinan sekolah untuk membuat konflik menjadi produktif.  Pertama, pimpinan sekolah mengingatkan semua pihak yang berkonflik pada tujuan sekolah yang  lebih tinggi (superordinate goals). Dengan demikian, antar pihak yang berkonflik  menyadari bahwa kinerja yang mereka lakukan  saling terkait dan dapat memberikan manfaat pada pencapaian tujuan yang lebih tinggi. Kedua, pimpinan sekolah melakukan upaya pemecahan masalah (problem  solving) bersama  dengan pihak-pihak yang berkonflik. Pertemuan  tatap muka antar pihak-pihak tersebut untuk mencari solusi bersama dalam lingkup pengerjaan tugas-tugas sekolah sebagai upaya menjaga produktivitas organisasi sekolah.  Ketiga,  pimpinan sekolah melakukan perluasan sumber daya (expansion of resources) yang menjadi potensi konflik sehingga semua pihak yang berkonflik dapat mengakses sumber daya tersebut. Sumber daya yang dimaksud dapat berupa posisi/jabatan khusus, uang, ruangan, fasilitas, dan lain-lain.Keempat, perintah dari yang berwenang (authoritative command) dapat dilakukan dengan mengundang pihak yang berwenang tersebut untuk memberikan perintah yang otoritatif kepada semua pihak, termasuk pihak-pihak yang berkonflik.
                Konflik yang dikelola secara produktif tentu akan mendorong warga sekolah terutama guru-guru untuk lebih produktif dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya di sekolah. Kegairahan kerja akan tetap terjaga manakala pimpinan sekolah dapat mengelola konflik yang muncul dengan baik. Kejelasan aturan main dan konsistensi dalam penegakkan aturan sekolah merupakan salah satu faktor yang memudahkan pimpinan sekolah untuk dapat mengelola konflik dengan baik dan produktif.

18 komentar:

  1. terimakasih yang sudah membuat blok in. saya sudah sangat terbantu dengan artikel yang diposting ini.

    BalasHapus
  2. sangat bermanfaat dan membantu. good job

    BalasHapus
  3. saya kurang mengerti dengan konflik dan produktifitas guru yg anda cantumkan.saya ingin anda memberi contoh yg lebih akurat.

    BalasHapus
  4. Artikel ini sangat membantu.
    Dpat membantu kami sebagai mahasiswa dalam mengerjakan tugas kuliah

    BalasHapus
  5. sangat keren dan mudah dipahami oleh semua orang

    BalasHapus